The Struggle of Fiqh Reasoning in the Implementation of MUI’s Fatwa on Worship during Pandemic in the Island of Lombok

Pergulatan Nalar Fikih dalam Implementasi Fatwa MUI tentang Ibadah saat Wabah di Pulau Lombok

  • Muhammad War'i Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darussalimin NW Praya
DOI: https://doi.org/10.47655/dialog.v44i2.490 | Abstract views: 69
PDF Downloads: 35
Keywords: fiqh reason, MUI’s fatwa, mosque closing

Abstract

This paper discusses the implementation of MUI’s fatwa on worship during Covid-19 pandemic. Social facts show that the implementation of the fatwa has given rise to various socio-religious conflicts in Lombok island. Through a qualitative approach, the paper concludes: First, the people of Lombok Muslim community disapprove the fatwa. Second, there is a conceptual difference between the government as the beholder of the MUI’s fatwa and the community's religious traditions that have been maintained for a long time. Third, the model of fiqh law reasoning used by the government in general is a textual (normative) model that is contrary to society's use of historical meaning. Therefore, a dialogical process is needed for a solution to social problems that occur as a result of the implementation of the ulama’s fatwa which is used as government policy so that it does not appear to be coercive by involving elements of ulama, goverment, and society. The dialog conectivity of these three elements in negotiating their understandings of fiqh to place the intent and purpose of a legal product (fatwa) will encourage the realization of inclusive fiqh reasoning.

Keywords: fiqh reason, MUI’s fatwa, mosque closing

 

Tulisan ini mengkaji secara fenomenologis implementasi fatwa MUI tentang ibadah di tengah pandemi wabah Covid-19. Fakta sosial menunjukkan bahwa implementasi fatwa tersebut telah melahirkan berbagai konflik sosial keagamaan di Pulau Lombok. Melalui pendekatan kualitatif tulisan berkesimpulan: Pertama, Respon masyarakat muslim Lombok sebagai demografi dengan banyaknya masjid adalah adanya ketidakmenerimaan baik secara psikologis, sosial, dan kultural. Kedua, Terjadi pertentangan konseptual antara pemerintah selaku pemegang fatwa MUI dengan konsep tradisi keagamaan masyarakat yang telah lama ada dan menjadi pedoman mereka. Ketiga, model penalaran hukum fikih yang digunakan pemerintah secara umum adalah model pemaknaan tekstual (normatif) bertentangan dengan masyarakat yang menggunakan pemaknaan historis. Oleh karena itu, dibutuhkan proses dialogis sebagai langkah solutif atas problem sosial yang terjadi akibat implementasi fatwa ulama yang dijadikan kebijakan pemerintah agar tidak terkesan memaksa dengan melibatkan unsur ulama, umara’, dan mujtama’. Konektivitas dialog tiga unsur ini dalam menegosiasikan pemahaman fikih mereka untuk mendudukkan maksud dan tujuan suatu produk hukum (fatwa) akan mendorong terwujudnya nalar fikih yang inklusif.

Kata Kunci: nalar fikih, fatwa MUI, penutupan masjid

Downloads

Download data is not yet available.

References

Agus Nadi. (12 Juli, 2021). Wawancara.

Agustina, A. M. (2020). Nalar Fikih Sufistik Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Merespons Pandemi Covid-19. Dinika Academic Journal of Islamic Studies, 2(4), 243–261.

Aljabiri, A. (2009). Bunyatul Aqlil Aroby: Dirosah Tahliliyah Naqdiyah li Nazhmil Ma’rifah fits Tsaqofatil Arobiyah. Baitun Nahdlah.

Amin Abdullah. (2012). Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif (1st ed.). Pustaka Pelajar.

Asmawadi. (12 Juli, 2021). Wawancara.

Asmuni. (2019). Krisis Nalar Fikih ( Pembacaan Perspektif Epistemologi Jabirian Dan Hamadian ) Crisis Of Fiqh Reasoning ( Interpreting The Perspective Of Jabirian And Hamadian Epistemology ). Millah Jurnal Studi Agama, 18(2), 177–206.

Avoneus, L. (2004). Reforming Wetu Telu : Islam, Adat, and The Promises Of Regionalism In Post-New Order Lombok. Yliopistopaino.

Ayub Rustiani. (2021). Macam-macam Konflik Sosial dan Contohnya di Masyarakat. Tirto. www.tirto.id

Azizah, L., & Nuruddin, N. (2021). Konflik Sosial Keagamaan Dimasa Pandemi Covid-19. SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, 4(1), 94–108. https://doi.org/10.20414/sangkep.v2i2.p-ISSN

Dahlan, M. (2020). Respons Jamaah Tabligh Terhadap Fatwa Majlis Ulama Indonesia Tentang Covid-19). Qiyas, Jurnal Hukum Islam Dan Peradilan, 5(1), 53–69.

Djamaluddin. (2011). Sejarah Sosial Islam di Lombok Tahun 1740-1935. Kementerian Agama RI.

Eka Budiwanti. (2000). Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima. LkiS.

Fahrurrozi. (2018). Tuan guru and social change in Lombok, Indonesia. Indonesia and the Malay World, 46(135), 117–134. https://doi.org/10.1080/13639811.2018.1452487

Fazlur Rahman. (1984). Islam and Modernity: Transformastion on an Intellectual Tradition. Chicago University Press.

Hakimul Ikhwan Affandi. (2004). Akar Konflik Sepanjang Zaman Elaborasi Pemikiran Ibnu Khaldun. Pustaka Pelajar.

Hanafi, Y., Taufiq, A., Saefi, M., Ikhsan, M. A., Diyana, T. N., Hadiyanto, A., Purwanto, Y., & Mawardi, A. I. (2020). Indonesian Ulema Council Fatwa On Religious Practices During Covid-19 Pandemic: An Investigation Of Muslim Compliance. 1–21. https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-33784/v1

Hariadi. (12 Juli, 2021). Wawancara.

Khaled Aboe Fadl. (2003). Atas Nama Tuhan dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif. PT. Serambi Ilmu Semesta.

Koeswarno, E. (2009). Fenomenologi Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Widya Padjajaran.

Mark Abrahamson. (2003). Functional, Conflict and Neofunctional Theories. Dalam G. Ritzer (Ed.), Handbook and Social Theory (hal. 146–147). Sage Publications.

Martin van Bruinessen. (2012). Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Gading Publishing.

Muhyar Fanani. (2008). Metode Studi Islam Aplikasi Sosiologi Pengetahuan sebagai Cara Pandang. Pustaka Pelajar.

MUI. (2020). Fatwa No 14 Tahun 2020 – Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Mui. https://mui.or.id/berita/27674/.

Mushodiq, M. A., & Imron, A. (2020). Peran Majelis Ulama Indonesia Dalam Mitigasi Pandemi Covid-19 (Tinjauan Tindakan Sosial dan Dominasi Kekuasaan Max Weber). SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I, 7(5), 455–472. https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i5.15315.

Republika. (2018). Asal Muasal Lombok Dikenal dengan Pulau Seribu Masjid. Republika. www.republika.co.id.

Rusyana, D. (2020). Fatwa Penyelenggaraan Ibadah di saat Pandemi Covid-19 di Indonesia dan Mesir. Perbandingan Mazhab Dan Hukum, UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Unpublished), January, 1–14.

Stella Ting-Toomy. (1991). Communicating Across Culture. Guilford Press.

suara NTB. (2020, April). Sosialisasikan Fatwa MUI, Bupati Lobar Kunjungi Tuan Guru Jelaskan Bahaya Covid-19. Suarantb.Com. https://www.suarantb.com/sosialisasikan-fatwa-mui-bupati-lobar-kunjungi-tuan-guru-jelaskan-bahaya-covid-19/

Suprapto. (2017). Sasak muslims and interreligious harmony: Ethnographic study of the perang topat festival in Lombok - Indonesia. Journal of Indonesian Islam, 11 (1), 77–98. https://doi.org/10.15642/JIIS.2017.11.1.77-98

Sutarmadi. (2021). Annual Conference on Fatwa Studies 5.

War’i, M. (2020). Post-Theistic Negotiation Between Religion And Local Customs: Roles Of Indigenous Local Faiths In Lombok Island: Study Of Epistemology And Sociology Of Knowledge. Dialog, 43(2), 209–224. https://doi.org/10.47655/dialog.v43i2.388

Zulkarnain, F., Nurdin, A., Gojali, N., & Wahyu, F. P. (2020). Kebijakan Fatwa MUI Meliburkan Shalat Jumat Pada Masa Darurat Covid-19. Uinsgd, 1–11. http://digilib.uinsgd.ac.id/id/eprint/30733

Published
2021-12-28
Section
Articles