Actualization of Pancasila Values in The Tahlilan Tradition in Sapen Village Yogyakarta

Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Tradisi Tahlilan di Kampung Sapen Yogyakarta

  • Lukman Fajariyah Mahasiswa Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Mohammad Dzulkifli Mahasiswa Magister Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
DOI: https://doi.org/10.47655/dialog.v44i2.485 | Abstract views: 195
PDF Downloads: 243
Keywords: Pancasila values, tahlilan, Sapen

Abstract

This study aims to describe how Pancasila values are implanted ​​in the tahlilan tradition in Kampung Sapen Yogyakarta. This study employs a qualitative descriptive method using interviews with several figures in Kampung Sapen. The study finds that the tahlilan tradition among Sapen community enables to instill Pancasila values, including: 1) theological awareness of the existence of God Who Creates and Destroys;  this is the practice of Divine values/the first pillar; 2) the expression of sympathy for the bereaved family, and a congregational prayer for the deceased; this is the practice of the second pillar; 3) the gatherings  that reflect a sense of brotherhood and unity/the third pillar; 4) a full obedience to the leader of tahlil can be seen as the practice of the fourth pillar; 5) Equality of seats, food and duties shows the practice of justice within the community. Tahlilan in Kampung Sapen has been practiced since the 1950s. For the people of Sapen, tahlilan plays as a hub of friendship and da'wah.

Keywords: Pancasila values, tahlilan, Sapen  

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai-nilai Pancasila dalam tradisi tahlilan di Kampung Sapen Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara terhadap beberapa tokoh dari penduduk Sapen yang representatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi tahlilan terdapat pengamalan nilai-nilai Pancasila yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakat, yaitu: 1) kesadaran teologi akan adanya Tuhan yang Maha Menciptakan dan Mematikan manusia dan seluruh makhluk-makhluknya, ini adalah pengamalan dari nilai ketuhanan; 2) adanya simpati pada keluarga yang berduka, dan doa bersama untuk meminta kebaikan untuk sang almarhum, adalah pengamalan sila kedua; 3) berkumpulnya semua lapisan masyarakat dalam suatu majlis menunjukkan sikap persaudaraan dan persatuan yang kokoh; 4) kepatuhan dan ketundukan pada sang pemimpin tahlil meruPakan pengamalan dari sila keempat; 5) persamaan tempat duduk, makanan dan tugas menunjukkan keadilan yang nyata di tengah-tengah masyarakat. Tahlilan di Kampung Sapen telah ada sejak tahun 1950-an. Tahlilan bagi masyarakat Sapen berfungsi sebagai wadah silaturrahmi dan dakwah. Fenomena tradisi tahlilan di kampung Sapen membantah anggapan yang mengatakan bahwa warga Muhammadiyah tidak melaksanakan tahlilan.

Kata Kunci: nilai-nilai Pancasila, tahlilan, Sapen

Downloads

Download data is not yet available.

References

Bakry, N. M. (1997). Orientasi Filsafat Pancasila. Liberty Yogyakarta.

Faizah, K. (2018). Kearifan Lokal Tahlilan-Yasinan Dalam Dua Perspektif Menurut Muhammadiyah. Aklam: Journal of Islam and Plurality, 3(2), 213–227.

Geertz, C. (2013). Agama Jawa: Abangan, santri, priyayi dalam kebudayaan Jawa. Komunitas Bambu.

Greetz. (1993). Kebudayaan dan Agama (2nd ed.). Kanisius.

Hadi, H. (1994). Hakekat & Muatan Filsafat Pancasila, Kanisius. Kanisius.

Humaidi, Wahid, Wardani, D. J., Rohman, S., Husni, M., A’Yunnisa, Q., Meilynda, R., Lailatussiam, S., Islaha, Z., & Anam, A. G. (2021). Tradisi Tahlilan: Potret Akulturasi Agama, Budaya Khas Islam Nusantara dan Tradisi NU. An Nahdhoh Jurnal Kajian Islam Aswaja, 1(1), 89–99.

Kaelan. (1996). Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Paradigma.

Khalil, A. (2008). Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa. (U.-M. Press (ed.)).

Lufaefi. (2018). Reaktualisasi Dakwah Walisongo: Gerak Dakwah KH. Aqil Siraj dalam Menebar Islam Rahmatan Lil Alamin. Aqlam: Journal of Islam And Plurality, 3(1), 102–116.

Moleong, L. J. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Nasir, R. (2018). Tradisi Tahlilan dalam Kehidupan Masyarakat Kelurahan MonongkokiKecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar: Tinjauan Pendidikan Islam. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Poespowardojo, S. (1989). Filsafat Pancasila. PT Gramedia Pustaka Utama.

Rhodin, R. (2013). Tradisi Tahlilan Dan Yasinan. IBDA: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 11(1), 76–87.

Riskasari, A. (2018). Pengaru Persepsi Tradisi Tahlilan di Kalangan Masyarakat Muhammadiyah Terhadap Relasi Sosial di Desa Gulurejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta. Panangkaran, 2(2), 189–205.

Rohman, N. F. (2019). Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tahlilan: Kajian Living Qur’an di Desa Palem Kecamatan Campurdarat. UIN Sultan Thaha Saifuddin.

Subroto, E. D. (1992). Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Sebelas Maret University Press.

Sugara, R. (2017). Reinterpretasi Konsep Bid’ah dan Fleksibilitas Hukum Islam Menurut Hasyim Asy’ari. Asy-Syari’ah, 19(1), 37–48.

Supriadi, Zakso, A., & Mirzachaerulsyah, E. (2021). Tradisi Religi dalam Ritual Yasinan-Tahlilan sebagai Upaya Pelestarian Kearifan Lokal Masyarakat Sukamulia Kota Pontianak. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 10(6), 1–9.

Udin, M. D. (2015). Analisis Perilaku Sosial Masyarakat Dusun Plosorejo Desa Kemaduh Kab. Nganjuk dalam Tradisi Tahlilan. Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, 26(2).

Verliyanti, V. (2019). Makna Gebing Pada Tradisi Tahlilan Masyarakat Jawa di Desa Singkawang Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari. UIN Sultan Thaha Saifuddin.

Published
2021-12-28
Section
Articles