https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/issue/feed Dialog 2021-07-13T15:11:33+00:00 Abas Al-Jauhari, M.Si. sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id Open Journal Systems <p><strong>Dialog</strong></p> <p><strong>Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan</strong></p> <p>DIALOG (ISSN: 0126-396x) is a periodical scientific journal which managed by Secretary of The Research and Development &amp; Educational Training Agency - Ministry of Religious Affairs. This journal first published in 1976. But then, it was officially changed in to an electronic journal in 2018. It is published twice in a year (June and December).</p> <p>DIALOG accepts research based papers, literature reviews, case studies, or any scientific articles that relate to socio-politico-religious issues and related topics. Each paper is peer reviewed by at least two reviewers. This journal allows readers to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of its articles and to use them for any other lawful purposes.</p> <p>DIALOG has become a CrossRef Member since the year 2019. Therefore, all articles published by DIALOG will have unique DOI number.</p> <p>DIALOG has been indexed in Google Scholar.</p> https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/470 Kata Pengantar 2021-07-13T15:11:07+00:00 Abas Al-Jauhari abasaljauhari@gmail.com 2021-06-30T03:12:57+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/408 From Debate to Dialogue: Authentic Interfaith Friendship from The Perspective of Christian Theology 2021-07-13T15:11:27+00:00 Yohanes Krismantyo Susanta yohanessusanta@gmail.com Febriani Upa febrianiupa16@gmail.com <p><em>This study is qualitative which employs literature reviews of materials discussing multifaith dialogues from the Christian perspectives. It believes that multifaith debate is already out-of-date and rather counterproductive. This study is to demonstrate the importance of dialogues among different faiths to foster interfaith brotherhood. It found that Christian theological attitudes towards other religions can be categorized into three major types known as tripolar typologies: exclusivism, inclusivism, and pluralism which was developed by Alan Race. This paper proposes an interfaith friendship dialogue based on mutual understanding as the essence of Christian existence. Truly authentic dialogue is only possible if it is established in friendly relationships between faiths.</em></p> <p>Metode penelitian dalam tulisan ini ialah kualitatif. Secara khusus, penelitian ini menggunakan studi pustaka dengan memanfaatkan sejumlah literatur yang mengulas tentang dialog antariman dan teori persahabatan dari perspektif Kristen. Perdebatan antaragama adalah sesuatu yang usang karena hanya akan semakin menumbuhkan benih-benih kebencian dan bersifat kontraproduktif. Signifikansi dari penelitian ini ialah guna memperlihatkan pentingnya dialog untuk menjembatani perbedaan dan memupuk persaudaraan antariman. Penelitian ini memperlihatkan bahwa sikap teologis Kristen terhadap agama lain dikelompokkan ke dalam tiga bagian besar yang dikenal dengan tipologi tripolar, yaitu eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Teori tipologi tripolar ini dikembangkan oleh Alan Race. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan dialog yang melampaui tipologi tripolar tersebut. Tulisan ini mengusulkan dialog persahabatan antariman dengan dasar pemahaman bahwa dialog antariman merupakan hakikat keberadaan Kristen. Dialog yang benar-benar autentik hanya mungkin terjadi jika terbangun dalam relasi persahabatan antariman.</p> 2021-06-29T15:28:53+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/438 The Exploitation of Religious Narratives: The Study of “Jihad Nikah” Narratives in ISIS Al-Qur’an Perspective 2021-07-13T15:11:24+00:00 Haris Fatwa Dinal Maula haris.f.d@mail.ugm.ac.id <p><em>ISIS uses the term “marriage jihad” narrative to attract new recruits, especially among women. Although ISIS was declared defeated in 2016, the seeds of the “jihadi brides” narrative can still be found in some acts of terrorism around the world even today. Hence, the study of “marriage jihad” is seen very relevant and urgent to be conducted. “Marriage jihad” narrative, according to them, emphasizes the importance of expecting mothers who will deliver warriors and soldiers who involved in their holy war. On the other hand, this narrative is also used to legitimize biological motives of ISIS combatants. Based on human rights perspective, this narrative is the kind of women slavery who are perceived as sexual objects. This is often wrapped in religious terminology, such “for the sake of Islam”. The “marriage jihad”phrase which has never been found in the history of Islamic discourse is analyzed through the perspectives of the Qur’an based on Ma’na Cum Maghza approach. According to the Qur’anic perspectives, both jihad and marriage have the same goal, that is to build a vision of peace and compassion. So the narrative of the “marriage jihad” initiated by ISIS is certainly at odd with the Islamic principles.</em></p> <p>ISIS menggunakan narasi “jihad nikah” untuk menarik calon anggota baru, khususnya perempuan. Meskipun ISIS sudah dinyatakan kalah pada 2016, benih-benih narasi “jihadi brides” masih bisa ditemui dalam aksi-aksi terorisme di seluruh dunia bahkan hingga saat ini. Hal ini yang membuat kajian tentang narasai “jihad nikah” menjadi relevan dan urgen. Artikel ini membahas tentang eksploitasi terminologi agama dalam agenda propaganda ISIS yaitu “jihad nikah”. Narasi ini, menurut mereka, menekankan pentingnya perempuan untuk dihamili agar kelak anak-anak yang lahir menjadi pejuang dan prajurit yang memperjuangkan mereka. Di sisi lain, narasi ini juga digunakan sebagai legitimasi kebutuhan syahwat para kombatan ISIS yang sedang berada di medan perang. Frase jihad nikah tidak pernah ditemukan dalam sejarah diskursus Islam. Tulisan ini mengupas narasi jihad nikah dalam perspektif al-Qur’an dengan pendekatan Ma’na Cum Maghza. Menurut sudut pandang tafsir al-Qur’an, jihad dan nikah mempunyai tujuan yang serupa yaitu membangun visi perdamaian dalam kasih sayang. Maka narasi jihad nikah yang diprakarsai oleh ISIS tersebut tentu bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Islam.</p> 2021-06-29T15:29:55+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/431 Philosophy of Ayam Jago: Researching The Values of Character Education in Customary Perbayo Sungai Tutung Village, Kerinci District 2021-07-13T15:11:21+00:00 Muhamad Yusuf yusufgayo32@gmail.com Nuzul Iskandar nuzul.iskandar@gmail.com Doli Witro doliwitro01@gmail.com Ogi Sandria ogisandria165@gmail.com <p><em>Perbayo is a speech delivered at the coronation ceremony of a local village leader that embraces three aspects, namely: the creation of human, the Kerinci’s natural history, and the leadership. As for the third aspect, the values are often analogous to a rooster having six characters: 1) langsing kokok (good crow); 2) sibar ekor (beautiful tail); 3) kembang sayap (wide wings); 4) besar paruh (big beak); 5) lebar dada (big chest); and 6) runcing taji (sharp spur). The six characters are metaphors of the values that a leader of Sungai Tutung Village must have. This study aims to explore the practice of character education among the people of Sungai Tutung Village. Using a semi-ethnographic design, this study found: firstly, the rooster’s six characters symbolize leadership values that have been preserved from generation to generation among the customary leaders of Sungai Tutung Village; secondly, the analogy of the rooster is maintained because apart from being easy to remember, it symbolizes courage, dignity, wisdom, and responsibility.</em></p> <p>Perbayo merupakan pidato saat penobatan pemuka adat desa yang memiliki penekanan pada tiga aspek, yaitu penciptaan manusia, sejarah alam Kerinci, dan kepemimpinan. Pada aspek ketiga, nilai-nilainya seringkali dianalogikan dengan ayam jago yang memiliki enam karakter: 1) langsing kokok; 2) sibar ekor; 3) kembang sayap; 4) besar paruh; 5) lebar dada; dan 6) runcing taji. Keenam karakter tersebut adalah metafor dari nilai-nilai yang mesti hidup dan tumbuh dalam individu pemuka adat di Desa Sungai Tutung. Artikel ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Perbayo Adat Desa Sungai Tutung. Dengan menggunakan desain semi etnografi, studi ini menemukan: pertama, enam karakter ayam jago merupakan nilai-nilai kepemimpinan yang dilestarikan secara turun-temurun oleh pemuka adat Desa Sungai Tutung; kedua, analogi ayam jago dipertahankan karena selain gampang diingat dan disebut, ayam jago menyimbolkan keberanian, kewibawaan, kebijaksanaan, dan bertanggungjawab.</p> 2021-06-29T15:31:14+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/445 Conflict Management in Pesantren, Madrasah, and Islamic Colleges in Indonesia: A Literature Review 2021-07-13T15:11:19+00:00 Lalu Pattimura Farhan lalupattimura@gmail.com Prosmala Hadisaputra prossayangamalia@gmail.com <p><em>This is a literature review focusing on the causes and the conflict resolution in pesantren (Islamic boarding schools), madrasas, and Islamic colleges in Indonesia. The study based on 27 documents consisting of 12 documents on conflict management in Islamic boarding schools, 12 documents on conflict management in madrasah and 3 documents on conflict management in Islamic Higher Education. All documents were strictly selected through the following stages: first, keyword mapping; second, searching; third, screening; fourth, checking the sorted data in the Mandeley software; fifth, all existing literatures are imported into the Nvivo software for analysis. The results of the study show that: 1) Among the causes of conflict in the pesantren are mainly family problems within the pesantren, and conflicting views in the management of education; 2) The causes of conflict in madrasah include the discipline of working time, teacher personal styles and personal problems, communication problems, organizational structure, and organizational members, and financial management problems; 3) The causes of conflict in Islamic colleges are disputed opinions and various interests among individuals or groups in the institution.</em></p> <p>Artikel ini adalah kajian literatur yang fokus mendiskusikan penyebab konflik dan penyelesaiannya dalam manajemen konflik di pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam (PTKI) di Indonesia. Jumlah literatur yang direview adalah 27 dokumen; 12 dokumen berbicara mengenai manajemen konflik di pesantren, 12 dokumen tentang manajemen konflik di madrasah, dan 3 dokumen membincangkan manajemen konflik di Perguruan Tinggi Islam. Semua dokumen dikumpulkan secara ketat melalui tahapan-tahapan berikut: pertama, pemetaan kata kunci; kedua, pencarian (searching); ketiga, penyaringan (screening); keempat, memasukkan semua data yang sudah dipilah ke dalam software Mandeley; kelima, semua data/literatur yang ada di Mandeley diimpor ke software Nvivo untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1) Di antara penyebab konflik di pesantren adalah masalah keluarga di internal pesantren, perbedaan pendidikan dan pandangan manajemen; 2) Penyebab konflik di madrasah antara lain kedisiplinan kehadiran dan waktu kepulangan, gaya pribadi guru, dan masalah pribadi, masalah komunikasi, struktur organisasi, dan anggota organisasi, dan masalah manajemen keuangan; 3) Di antara penyebab konflik di perguruan tinggi Islam adalah perbedaan pendapat dan kepentingan antara individu atau kelompok.</p> 2021-06-29T15:32:13+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/422 Marriage and Religion: Dynamics of Religious Conversion in Marriage and The Advancement of Community Religious Life Perspective of Religious Psychology and Sociology (Study in Lumajang Regency) 2021-07-13T15:11:17+00:00 Muhammad Aminuddin Shofi shofihasan85@gmail.com <p><em>This study analyzes how and why interfaith couples tend to return to their religions after marriage. The results showed that the choice of interfaith couples to embrace their partner’s religion at the time of marriage is necessary, because they saw that their new religion provides attractive rewards (marriage). The discovery of the converters who later reverted to their original religion indicated that the religious conversion was carried out for the purpose of marrying their partners only. There were three reasons for the conversion: a) A strong belief in the original religion so that it is difficult to completely convert to a new religion when getting married. b) Freedom of religious observance given by the spouses and the families becomes social support which makes the converters remain calm and confident about their actions. c) The surrounding environment is also the reason as to why conversion occurs; the religion of the majority of the surrounding community can also influence conversion to the original religion.</em></p> <p>Penelitian ini akan menganalisis bagaimana dan apa alasan pasangan beda agama melakukan konversi agama kembali pasca perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan pilihan pasangan beda agama untuk memeluk agama pasangannya ketika menikah adalah sebuah keniscayaan, sebab mereka melihat agama baru yang dianut memberikan reward yang menarik (menikah). Ditemukannya pelaku konversi yang kemudian kembali menganut agama asal menandakan konversi agama yang dilakukan tidak sungguhan, hanya sebatas untuk dapat mengawini pasangannya. Ada tiga alasan tindakan konversi yang dilakukan informan penelitian: a) Kuatnya keimanan pada agama asal sehingga sulit untuk harus secara total melakukan konversi agama ketika melangsungkan perkawinan. b) Kebebasan dalam menganut agama yang diberikan oleh pasangan dan keluarga menjadi dukungan sosial yang menjadikan pelaku konversi tetap tenang dan percaya diri atas tindakannya. c) Lingkungan sekitar juga menjadi alasan pelaku konversi, agama mayoritas masyarakat sekitar juga dapat mempengaruhi tindakan konversi pada agama semula.</p> 2021-06-29T15:33:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/444 The Mindset of Christ As The Foundation of The Church in Building Religious Harmony: An Interpretation of Philippians 2: 5 2021-07-13T15:11:15+00:00 Daido Tri Sampurna Lumbanraja daidolumbanraja@gmail.com <p><em>Building religious harmony is the duty and responsibility of all Indonesian people. Church is an essential part of Indonesian society which is also obliged to develop religious harmony. Answering the question of how the church should behave and act in a pluralistic society is to offer the teaching concept of the mindset of Christ. As it is contained in Philippians 2: 5, the church has to serve as the foundation of religious harmony. The mindset of Christ in question is the act of Christ who does not defend his rights, the act of Christ who willingly becomes the same as an ordinary man and the act of Christ who takes the form of a slave and acts like a slave who cares for the interests of his master. This study utilizes technical data analysis with a descriptive-interpretive model, which is to elaborate the focus of the study by parsing and re-interpreting it in a certain context. In this case the text described is Philippians 2: 5 using the hermeneutic method as a scalpel and then interpreted in the context of religious harmony in Indonesia.</em></p> <p>Membangun kerukunan umat beragama merupakan tugas dan tanggungjawab seluruh rakyat Indonesia. Gereja merupakan salah satu bagian dari masyarakat Indonesia yang juga berkewajiban untuk berkontribusi mewujudkan kerukunan umat beragama. Menjawab pertanyaan bagaimana gereja harus bersikap dan bertindak di tengah lingkup masyarakat yang majemuk adalah dengan menawarkan konsep pengajaran mengenai mindset Kristus yang terkandung dalam surat Filipi 2:5 untuk dijadikan sebagai landasan gereja membangun kerukunan umat beragama. Mindset Kristus yang dimaksud adalah tindakan Kristus yang tidak mempertahankan haknya, tindakan Kristus yang dengan rela menjadi sama dengan manusia dan tindakan Kristus yang mengambil rupa hamba dan berlaku seperti hamba yang mementingkan kepentingan tuannya. Penelitian ini menggunakan teknis analisis data dengan model deskripitf-interpretatif yaitu mengelaborasi fokus penelitian dengan cara mengurai dan memaknai kembali pada konteks tertentu. Dalam hal ini teks yang diurai adalah surat Filipi 2:5 menggunakan metode hermeneutik sebagai pisau bedah lalu dimaknai pada konteks kerukunan umat beragama di Indonesia.</p> 2021-06-29T15:33:52+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/428 Religious Plurality in Dayak Bidayuh Lara Society (Portrait of Inter-Religious Harmony in Kendaie Lundu Village, Sarawak) 2021-07-13T15:11:30+00:00 Zakaria Efendi meduklimo@gmail.com <p><em>This study investigates the phenomena of plurality among the Dayak Bidayuh Lara community in Kendaie Lundu Village, Sarawak. Apart from that, it also describes the social and religious activities of the indigenous people that maintain the concept of tolerance. This study used qualitative methods by conducting observations and by using a descriptive approach as a research instrument. The study found that 1) as an indigenous community, the indigenous Dayak Bidayuh lara community in Kendaie Lundu Village are aware of the plurality of life in their environment, so that in carrying out social and religious activities, they live not in boundaries that separate between majority and minority communities. 2) There are some people with different religions from one family and live in one house. So that this reflects the exoticism of religious plurality in the Dayak Bidayuh Lara community; 3) as a community that inhabits the interior and border areas, inter-national fraternities are closely intertwined, social relations between the people of Malaysia and Indonesia are still established today.</em></p> <p>Makalah ini menggambarkan pluralias yang terjadi pada masyarakat Dayak Bidayuh Lara di Kampung Kendaie Lundu, Sarawak. Selain itu, makalah ini juga mendeskripsikan kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat adat di sana yang menjunjung tinggi toleransi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi, pengamatan, dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian; 1) sebagai masyarakat adat, masyarakat adat Dayak Bidayuh Lara di Kampung Kendaie Lundu sadar akan pluralitas dalam kehidupan di lingkungannya, sehingga dalam melakukan aktivitas sosial dan keagamaan, tidak menimbulkan jarak dan batasan antara masyarakat mayoritas dan minoritas; 2) masih banyak dijumpai orang-orang dengan agama yang berbeda namun masih satu keluarga dan hidup dalam satu rumah, sehingga hal tersebut mencerminkan keeksotisan dalam kemajemukan beragama pada masyarakat Dayak Bidayuh lara di sana; 3) sebagai masyarakat yang mendiami wilayah pedalaman dan perbatasan, persaudaraan serumpun lintas negara terjalin dengan erat, hubungan sosial masyarakat di Malaysia dan Indonesia masih terjalin sampai sekarang.</p> 2021-06-29T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/392 Student Care Patterns in Integrated Islamic Boarding School Bina Amal Semarang 2021-07-13T15:11:33+00:00 Aji Sofanudin ajisofan@gmail.com Rahmawati Prihastuty rakhmawati.prihastuty@gmail.com Hamidulloh Ibda hamidulloh.Ibda@gmail.com <p><em>This research aims to determine caring patterns for student in an integrated Islamic boarding school (SMIT) Bina Amal Semarang. Teacher act as parents in this caring activity to conduct supervision, guidance, discipline, giving reward and punishment. SMIT Bina Amal Semarang is an integrated boarding Islamic school which consists of junior and senior high schools. By using qualitative approach, the research found that caring patterns at these schools were developed in a democratic pattern of pesantren model. All students of the schools were automatically deemed as “santri”(students) of the “pesantren” Bina Amal. Supervision, guidance, discipline, reward and punishment implemented at the Bina Amal Semarang schools were carried out by caregivers along with a clear organizational management consisting of three coordinators: Islamic culture and discipline coordinator, tahsin tahfiz coordinator, and academic coordinator. The rules were strictly enforced through student management guidelines that contain academic guidelines and dormitory rules. Learning system was integrated between school and dormitory programmes.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola asuh peserta didik Sekolah Menengah Islam Terpadu (SMIT) Bina Amal Semarang. Pola asuh merupakan cara guru sebagai orang tua dalam melakukan pengawasan, bimbingan, disiplin, pemberian hadiah dan hukuman yang diterapkan kepada peserta didik. SMIT Bina Amal Semarang merupakan Sekolah Islam Terpadu yang dikelola dengan sistem asrama (boarding school) terdiri atas jenjang SMP dan SMA. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif temuan penelitian menunjukkan bahwa pola asuh peserta didik pada SMIT Bina Amal Semarang menerapkan pola demokratis model pesantren. Seluruh peserta didik SMIT Bina Amal otomatis adalah “santri” pada “pesantren” Bina Amal. Pengawasan, bimbingan, disiplin, pemberian hadiah dan hukuman yang diterapkan di Bina Amal Semarang dilakukan oleh pengasuh beserta organ struktur organisasi yang jelas: korbid budaya Islami dan kedisiplinan, korbid tahsin tahfiz, dan korbid akademik. Aturan diterapkan secara ketat melalui pedoman pengelolaan peserta didik yang berisi pedoman akademik dan tata kehidupan asrama. Pembelajaran peserta didik terintegrasi antara kegiatan pembelajaran sekolah dan kegiatan santri di asrama.</p> 2021-06-29T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/442 The Portrait of Interreligious Harmony: A Phenomenon Study of Inter-Faith Family Harmony in Gunung Kidul, Yogyakarta 2021-07-13T15:11:12+00:00 Muhammad Muhajir hajirsyarof@gmail.com Arif Al Anang radenarifmasduki@gmail.com <p><em>This study aims to delve into the building harmony of interfaith families in Jetis, Hargomulyo, Gedangsari, Gunung Kidul Yogyakarta. It explores how the family ensures rights and obligations, educates children, provides freedom of worship and maintains relations with the family and the surrounding communities. In addition, it also explains how Islam views the harmony of families of interfaith couples. The results showed that the people of Jetis kampong attempted to fulfill their rights and obligations properly, such as the provision of proper livelihoods, not less and not excessive, although the level of fairness of each individual is different from one person to another. In terms of religion, the couples were able to carry out religious activities separately; they mutually support one another by creating tolerance in the family.</em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktek pembentukan keluarga harmonis pasangan keluarga beda agama di Dusun Jetis, Hargomulyo, Gedangsari, Gunung Kidul Yogyakarta, yang meliputi bagaimana pemenuhan hak dan kewajiban, bagaimana pendidikan anak, bagaimana kebebasan beribadah dan bagaimana relasi dengan keluarga maupun masyarakat sekitar, serta menjelaskan bagaimana tinjauan Islam terhadap keharmonisan keluarga pasangan beda agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Jetis dalam praktek pembentukan keluarga harmonis dilihat dari segi pemenuhan hak dan kewajiban sudah terpenuhi dengan baik, serta dalam hal keagamaan keduanya mampu menjalankan aktivitas keagamaan secara terpisah namun saling mendukung antara satu dengan yang lainnya dengan memunculkan sikap toleransi dalam keluarga.</p> 2021-06-29T15:37:58+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/404 Tolerance Portraits in Kupang City Based on Dimensions of Perception, Attitude, Cooperation, and Government Role 2021-07-13T15:11:10+00:00 Jefirstson Richset Riwukore Jefirstson.Richset@gmail.com Fellyanus Habaora jefritson@uigm.ac.id Fakhry Zamzam Fakhry.Zamzam@gmail.com Tien Yustini Tien.Yustini@gmail.com <p><em>Humans were influenced by perceptions, attitudes, cooperation, and the government roles to portray indicators of religious tolerance. Therefore, this study was carried out between January and March 2020 to deeply analyze the dimensions of perception, attitude, cooperation, and the roles of the government, using a case study technique with a descriptive approach. The population of this study were 53 people representing religious figures, community leaders, government, and levels of society. A questionnaire was used containing statements based on Likert scale measurements. Data analysis was carried out in a narrative manner. The results showed that the portrait of the dimensions of perception, attitude, cooperation, and the role of the government supports religious tolerance in the City of Kupang. However, it found that a neutral attitude was shown when it was related to the attendance to the worship of other religions. Based on the dimension of cooperation, there were also people who showed a neutral attitude on the donations or social action for the followers of other religions, and a willingness to maintain a normative business that does not conflict with adherents of other religions.</em></p> <p>Unsur manusia yang dipengaruhi oleh persepsi, sikap, kerjasama dan peran pemerintah merupakan indikator potret terhadap toleransi umat beragama. Untuk hal tersebut maka telah dilakukan penelitian sejak Januari-Maret 2020 tentang potret dimensi persepsi, sikap, kerjasama, dan peran pemerintah, menggunakan teknik studi kasus dengan pendekatan secara deskriptif. Populasi ataupun sampel dalam penelitian ini sebanyak 53 orang sebagai representatif tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, pemerintahan, dan lapisan masyarakat. Metode survei menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan berbasis pengukuran skala Likert. Analisis data dilakukan secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potret dimensi persepsi, sikap, kerjasama, dan peran pemerintah mendukung toleransi umat beragama di Kota Kupang. Meskipun demikian masih ada sikap umat beragama yang netral jika terkait dengan kesediaan berada di rumah ibadah pemeluk agama lain yang ada di sekitar tempat tinggal. Berdasarkan dimensi kerjasama, juga terdapat umat yang menunjukkan sikap netral terhadap kesediaan memberikan sumbangan atau aksi sosial kepada pemeluk agama lain, dan kesediaan untuk menjaga normatif usaha yang tidak bertentangan dengan pemeluk agama lain.</p> 2021-06-29T15:38:57+00:00 ##submission.copyrightStatement##